KURIKULUM PENDIDIKAN
KURIKULUM PENDIDIKAN
TUGAS
UNTUK MEMENUHI
TUGAS MATA KULIAH
Kurikulum
Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Yang dibina
oleh Bapak Ahmad Dardiri
Oleh :
FIAN FIDIANTO (130521606167)
INDAH PATMA BUANA (130521606193)
MOHAMAD FAUZAL MUTAQIN (130521606196)
MUHAMMAD FATHOR RAHMAN (130521606189)
NURUL PUSPITA SARI (130521606190)
TRITAN CARA BAKTI (130521606160)
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK
SIPIL
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
SEPTEMBER 2015
Teori
Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Menurut beberapa ahli pengembangan
kurikulum perlu mengacu pada teori-teori yang sudahdikembangkan para ahli di
antaranya oleh :
·
Ralp W. Tyler (Sukamto,
1988 : 46) yang mengemukakan empat pertanyaan :
1. Apakah
tujuan pendidikan yang ingin dicapai di sekolah ?
2. Pengalaman
belajar macam apakah yang harus disediakan untuk dapat mencapai tujuan
pendidikan tersebut ?
3. Bagaimanakah
pengalaman-pengalaman belajar tersebut dapat diorganisasikan dengan efektif ?
4. Bagaimanakah
caranya untuk mengetahui bahwa tujuan pendidikan tersebut telah dicapai?
·
Menurut Curtish R.
Finch and John R. Grunkilton (1984 : 32) dalam pengembangan
kurikulum bahwa awalnya difokuskan sebagai : ”The development phase focuse on
relating objectives to sound learning principles, identifying the learning
guidelines necessary for optimum learning, and specifying activities that
should take place in the learning enviroment”.
Jadi, tujuan awal adalah bagaimana tujuan pembelajaran akan dicapai dengan
memperhatikan prinsip-prinsip belajar bagi peserta didik, mengidentifikasi
bagaimana pembelajaran bisa berlangsung optimal yang diperlukan dengan
memperhatikan lingkungan belajar agar siswa melakukan aktivitas belajar.
·
Menurut Sukamto (1988 :
47) bahwa : Kontroversi tentang apa yang harus menjadi tujuan pendidikan di sekolah ini dapat dilihat
misalnya pada harus ditambahkannya mata pelajaran baru di suatu kurikulum
lembaga pendidikan manakala pemerintah atau kelompok masyarakat tertentu secara
persuasif memandang perlu dimasukkan menjadi bahan pelajaran di sekolah.
Skema Pendekatan Sistematik Perencanaan Pengembangan
Kurikulum PTK (Sumber : Sukamto 1988 : 49) :
Untuk
memberi gambaran tentang rancangan kurikulum di bawah ini akan diuraikan secara
singkat tentang model rancangan kurikulum :
1.
Subject-centered Curriculum
Model
rancangan kurikulum ini yaitu peserta didik akan dipisahkan, misalnya jalur
akademik dan jalur kejuruan. Pemisahan jalur ini mengarahkan jalur akademik
untuk dapat melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, dan jalur
kejuruan lulusannya disiapkan untuk memasuki lapangan kerja. Dari pengembangan
sumber daya manusia rancangan subject-centered curriculum terlalu kaku,
karena tidak luwes menghadapi realitas peserta didik yang beragam potensinya
serta terlalu membesarkan dikotomi antara belajar dan bekerja. Pada realitanya
peserta didik dari jalur kejuruan ada yang berpotensi melanjutkan dan
sebaliknya dari jalur akademik kurang berpotensi untuk melanjutkan studi ke
tingkat yang lebih tinggi.
2.
Kurikulum Inti
Rancangan
kurikulum dengan model kurikulum inti yaitu bahwa struktur kurikulum di sekolah
akan dibagi menjadi beberapa komponen. Komponen itu yaitu ada komponen inti
yaitu mata pelajaran atau mata diklat yang wajib diikuti oleh semua peserta
didik, komponen wajib yaitu mata pelajaran atau mata diklat yang wajib diikuti
oleh semua peserta didik yang mengambil spesialisasi tertentu yang relevan
dengan minat, bakat atau potensinya, dan ada komponen pilihan yang boleh
diambil sebagai peserta yang memilih mata pelajaran atau mata diklat efektif.
Model rancangan kurikulum ini memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
mendapat materi-materi mendasar yang secara umum diperlukan, selanjutnya akan
mendapat materi yang spesifik untuk bidang studi tertentu. Disamping itu
peserta didik iberi kesempatan untuk mengembangkan potensi dengan memilih mata
pelajaran elektif yang sesuai bakat, minat, dan potensinya.
3.
Cluster-Based Curiculum
Pengorganisasian
model cluster-based curriculum ini, kurikulum diorganisasikan sedemikian
rupa dengan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk tidak mengikuti
program spesifik untuk suatu tujuan tertentu. Di dalam program tersebut
mengandung suatu keluwesan bahwa lulusan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan
masyarakat, khususnya dunia kerja. Dasar dari pengorganisasian dengan model cluster-based
curriculum ini bahwa beberapa kelompok pekerjaan mempunyai dasar komponen skill
dan kemampuan yang kurang lebih sama, juga peserta didik atau lulusan yang
kelak memiliki skill dan kemampuan dasar akan dapat beradaptasi secara
luwes untuk memilih pekerjaan atau kariernya.
4.
Kurikulum Berdasar Kompetensi
Model
ini sudah dikembangkan sejak dekade 1970-an dan sering disebut anti
intelektualisme. Model kurikulum berdasarkan kompetensi (competency-based
curriculum) banyak diterapkan pada pendidikan kejuruan dan pendidikan
guru. Pada dasarnya kurikulum berdasarkan kompetensi yaitu menginventarisasi
kompetensi yang diasumsikan esensial dalam suatu pekerjaan, jabatan atau karier
tertentu. Ukuran pencapaian kompetensi tersebut ditentukan secara eksplisit,
yang akan dijabarkan dalam proses pembelajaran sebagai tanggung jawab untuk
membantu peserta didik mencapai kriteria keberhasilan. Secara implisit dalam
desain kurikulum ini adalah konsep desain sistem, modul untuk kegiatan
instruksional untuk memungkinkan peserta didik belajar secara individual, dan
mekanisme perumusan perangkat kompetensi dan kriteria pencapainya.
Kompetensikompetensi yang secara terpisah-pisah banyak dikritik, karena tidak
menjamin seseorang secara menyeluruh menguasai kompetensi dalam bidang
pekerjaan tertentu.
5.
Kurikulum Terbuka
Kurikulum
terbuka (open-based curriculum) telah mulai menjamur sekitar tahun 1970
yang didasarkan pada gagasan inovatif bahwa pada dasarnya apa saja bisa
diajarkan, pada siapa saja dan di mana saja, serta pada umur berapa saja
(Sukamto, 1988 : 51). Kurikulum terbuka ini diilhami oleh pemikrian Jerome Bruner
dalam bukunya The Process of Education. Ciri pokok pengorganisasian kurikulum
ini yaitu bahwa :
a. proses
pembelajaran secara individual penuh.
b. ditekankan
pada belajar para peserta didik.
c. adanya
diferensiasi tugas staf pengajar dan personal penunjang.
d. dalam
hal keluar masuknya peserta didik dalam suatu program yaitu multiple entry dan
open exit.
e. penggunaan
multi media dan paket instruksional. Dengan adanya beberapa model rancangan
kurikulum tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu cara rancangan kurikulum
yang paling baik dan efektif, berarti perlu ada gabungan atau modifikasi dari
model-model tersebut.
Tahapan
Proses Perencanaan Kurikulum
Keseluruhan proses perencanaan kurikulum
dapat dibagi dalam tiga tahapan besar, yaitu tahap perencanaan, implementasi,
evaluasi dan pemantapan.
1. Tahap
Perencanaan
Pada
tahap perencanaan diawali analisis kebutuhan yang didasarkan pada kajian
sosiologis, filosofis, dan kajian psikologis. Dalam kajian sosiologis yaitu menganalisis
karakteristik masyarakat kontemporer termasuk struktur dan situasi lapangan
kerja. Kajian filosofis menyangkut karakteristik manusia dan kehidupan yang
ideal menurut tatanan dan norma yang dianut dalam masyarakat, sedangkan kajian
psikologis menyangkut kebutuhan manusia pada umumnya, dan khususnya kebutuhan
peserta didik. Semua tahapan ini dapat dikategorikan sebagai penjajagan atau
studi kelayakan. Setelah studi kelayakan dilanjutkan dengan studi pengembangan
desain program, yang mencakup rumusan tujuan sesuai tingkatan hierarkinya, isi kurikulum,
strategi pembelajaran, dan pengembangan kriteria penilaian keberhasilan.
2. Tahap
Implementasi
Desain
yang telah dikembangkan, maka pada tahap ini diuji cobakan, dikelola
dilaksanakan dan dalam proses selalu dilakukan penyesuaian dengan kondisi lapangan
dan karakteristik para peserta didik sesuai tingkatan usia. Pada tahap
implementasi ini juga sekaligus dilakukan penelitian lapangan untuk keperluan
validasi sistem kurikulum tersebut.
3. Tahap
Evaluasi
Pada
tahap ini dilakukan evaluasi secara komprehensif untuk menentukan keberhasilan
atau kekurang berhasilan dari desain program yang telah dibuat berdasarkan
kriteria yang sudah disiapkan. Evaluasi tersebut menyangkut kriteria efisiensi
internal dan eksternal, juga kriteria efektivitas program.
Karakteristik Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan
Untuk
mengoperasionalkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang dalam hal ini adalah
departemen pendidikan nasional (depdiknas), maka setiap satuan pendidikan
terlebih dahulu harus mengembangkan kurikulum dengan mengacu pada
pedoman-pedoman pengembangan KTSP dan kondisi daerah dimana satuan pendidikan
(sekolah) itu berada. Dalam hubungan ini terdapat tujuh karakteristik
pendidikan teknologi dan kejuruan yang perlu diperhatikan dalam perencanaan
kurikulum, yakni:
1. Orientasi
Pendidikan Kejuruan
Sifat dari pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang
mempersiapkan dan menyediakan tenaga kerja, sehingga orientasinya pun ditujukan
pada output dan juga outcome.
2. Justifikasi Untuk Eksistensi
Justifikasi pendidikan teknologi dan kejuruan yaitu perlu adanya
kebutuhan nyata di lapangan seperti kebutuhan akan tenaga kerja dari
bidang-bidang yang tercakup dalam lingkup teknologi dan kejuruan. Kebutuhan
yang dimaksud tentang tenaga kerja, tidak dapat hanya berdasarkan asumsi atau
menurut para pejabat, tetapi perlu dijabarkan dari analisis kebutuhan lapangan.
3.
Fokus Kurikulum
Kurikulum
pendidikan kejuruan dan teknologi memberi arah untuk menolong peserta didik
untuk mengembangkan secara luas tentang pengetahuan, keterampilan, sikap dan
nilai-nilai pada lulusan yang dapat terintegrasi dalam kemampuan penampilan
kerja mereka di lapangan.
4. Standar Keberhasilan
Standar keberhasilan pendidikan kejuruan menerapkan ukuran ganda, yaitu
keberhasilan peserta didik di sekolah dan keberhasilan di luar sekolah. Yang dimaksud keberhasilan peserta didik di sekolah ialah tercapainya
persyaratan kurikuler yang diorientasikan pada situasi kerja yang sebenarnya
atau persyaratan kerja yang dituntut oleh lapangan kerja
Keberhasilan
di luar sekolah berarti setelah lulus peserta didik mempunyai jarak yang pendek
antara waktu lulus dengan waktu diserap di lapangan kerja.
5. Kepekaan Pada Perkembangan Masyarakat
Kepekaan terhadap perkembangan yang dimaksud adalah perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, inovasi atau penemuan-penemuan baru di bidang
produksi dan jasa, pasang surut suatu bidang pekerjaan yang berdampak pada
bekembangnya suatu ilmu pengethuan terhadap masyarakat sekitar.
6. Perbekalan dan Logistik
Didalam pendidikan kejuruan ada yang perlu diperhatikan yaitu tentang
peralatan atau laboratorium maupun bengkel peserta didik dapat melakukan
praktek yang sesuai dengan bidangnya dan didalam laboratorium tersebut harus
sesuai dengan dunia kerja yang ada saat ini.
7. Hubungan Masyarakat
Pada karakteristik bagian ini, dibutuhkan pengetahuan, sikap dan
keterampilan peserta didik untuk siap terjun ke dalam peran masyarakat atau
yang biasa disebut dengan Prakerin di DU/DI yang bersangkutan. Guna menciptakan
peserta didik yang handal dan berkompeten dalam dunia kerja setelah mereka
lulus kelak.
Landasan Konseptual Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum PTK
Landasan konseptual merupakan
acuan dalam proses perencanaan dan pengembangan kurikulum, sebagai pedoman
langkah-langkah perencanaan sampai dengan evaluasi kurikulum bahwa kurikulum PTK harus :
1. Berorientasi kepada adanya keseimbangan antara kebutuhan anak didik
dengan kebutuhan lapangan kerja.
2. Mempertimbangkan artikulasi antara jenjang pendidikan sejalan dengan
perkembangan vokasional anak didik.
3. Di tingkat menengah atas perlu menyediakan kurikulum dasar yang luas
yang didasarkan pada sekelompok karier tertentu, tetapi menghindarkan
spesialisasi yang terlalu tajam.
4.
Di tingkat menengah atas perlu
mengambil sifat pendekatan proaktif
dan menjauhkan dari sifat pendekatan reaktif terhadap kebutuhan lapangan kerja
agar kebijakan program dan adaptabilitas lulusan dapat dijamin.
5.
Pendidikan kejuruan secara
otomatis tidak bersifat terminal tetapi akan bersifat developmental sejalan dengan perkembangan potensi anak.
6. Dalam perencanaan kegiatan instruksional perlu ada keseimbangan
proporsi kegiatan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara terpadu.
7. Dalam perencanaan kegiatan instruksional harus menggambarkan suasana
belajar dari pada nuansa bekerja, walaupun aspek-aspek dunia kerja sebanyak
mungkin harus direfleksikan.
8. Program penelusuran minat, bakat program bimbingan akademik dan
bimbingan kejuruan, serta orientasi dunia kerja harus ditangani secara serius
sebagai kegiatan penunjang keberhasilan pelaksanaan kurikulum.
9. Proses evaluasi secara komprehensif perlu dilakukan secara terus
menerus baik yang menyangkut input, proses maupuan output.
10. Dukungan empirik dari perencanaan, implementasi dan keberhasilan
kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan harus diusahakan melalui kegiatan
penelitian yang terarah dan terencana agar pondasi ilmiah penyelenggaraan
pendidikan teknologi dan kejuruan akan semakin mapan.
(Sukamto, 1988 : 58-59) Beberapa
aspek pokok yang dikembangkan dalam kerangka konseptual yaitu aspek pentahapan
proses perencanaan, aspek interaksi komponen sistem, aspek makro dan mikro
dalam operasionalisasi proses perencanaan, aspek efisiensi internal dan
eksternal sebagai keberhasilan pendidikan teknologi dan kejuruan.


Komentar
Posting Komentar